Kesalahan paling umum yang saya lihat ketika seseorang mulai mengerjakan SEO sebuah website adalah langsung loncat ke optimasi. Ganti title tag, tambahkan keyword di sana-sini, pasang plugin SEO, lalu tunggu. Sebulan kemudian tidak ada yang berubah, dan mereka bingung kenapa.
Masalahnya bukan pada eksekusinya — masalahnya adalah mereka mengoptimasi sesuatu yang belum mereka pahami sepenuhnya. SEO yang efektif selalu dimulai dari pemahaman, bukan tindakan. Dan pemahaman itu datang dari dua hal yang seharusnya mengisi penuh bulan pertama setiap proyek SEO: audit dan riset keyword.
Di artikel ini saya akan ceritakan bagaimana saya menjalankan fase bulan pertama — apa yang saya periksa, bagaimana saya memilih keyword, dan kenapa urutan pengerjaannya penting. Sebagian besar yang saya tulis di sini berasal dari pengalaman langsung mengerjakan proyek SEO untuk berbagai jenis website, termasuk proyek SEO untuk website seniman lokal yang saya dokumentasikan sebelumnya.
Mengapa Audit Harus Datang Sebelum Apapun
Bayangkan Anda diminta memperbaiki performa sebuah mobil tanpa boleh membuka kap mesin dulu. Anda bisa menebak masalahnya, tapi kemungkinan besar tebakan Anda salah. Audit SEO adalah momen membuka kap mesin itu.
Audit memberi saya gambaran jujur tentang kondisi website saat ini — bukan kondisi yang diharapkan pemiliknya, bukan kondisi idealnya, tapi kondisi yang sebenarnya. Dari sana saya bisa membuat keputusan yang tepat tentang mana yang harus diperbaiki dulu, mana yang bisa ditunda, dan mana yang ternyata tidak perlu disentuh sama sekali.
Tanpa audit, saya hanya akan bekerja berdasarkan asumsi. Dan asumsi dalam SEO mahal harganya — waktu dan tenaga yang dihabiskan untuk mengoptimasi hal yang salah adalah waktu dan tenaga yang tidak bisa diambil kembali.
Bagian 1: Audit Teknis
Audit teknis memeriksa apakah website bisa dirayapi dan diindeks Google dengan baik. Konten sebaik apapun tidak akan ranking kalau Google kesulitan membacanya. Ini yang pertama saya periksa, karena masalah teknis yang tidak terdeteksi bisa membuat semua pekerjaan SEO lainnya sia-sia.
Kecepatan Halaman
Saya menggunakan Google PageSpeed Insights sebagai titik awal. Bukan karena ini satu-satunya alat yang valid, tapi karena ini langsung menggunakan data dari Google — dan yang mengindeks website Anda adalah Google, bukan tools lain. Skor yang saya perhatikan terutama adalah Core Web Vitals: LCP (Largest Contentful Paint), INP (Interaction to Next Paint), dan CLS (Cumulative Layout Shift).
Untuk website dengan banyak gambar seperti portofolio seniman atau galeri foto, LCP hampir selalu menjadi masalah utama. Gambar-gambar besar yang tidak dikompresi dan tidak di-lazy load bisa membuat LCP di atas 4 detik, jauh melewati ambang batas 2,5 detik yang direkomendasikan Google. Ini bukan sekadar angka — setelah March 2026 Core Update, halaman dengan LCP di atas 3 detik terbukti kehilangan visibilitas lebih besar dibanding kompetitor yang lebih cepat.
Mobile-Friendly
Google sudah lama menggunakan mobile-first indexing, artinya versi mobile website Anda adalah versi yang dinilai untuk ranking. Saya menggunakan Google Search Console dan Mobile-Friendly Test untuk memverifikasi ini. Yang sering terlewat adalah bukan sekadar apakah tampilan mobile-nya responsif, tapi apakah konten dan struktur halamannya sama antara versi desktop dan mobile.
Catatan penting: mulai 1 Juli 2026, Google akan menghapus sepenuhnya dari indeks website yang tidak memiliki versi mobile yang berfungsi. Ini bukan ranking penalty biasa — ini penghapusan total dari hasil pencarian. Kalau website klien belum mobile-friendly, ini menjadi prioritas darurat yang harus diselesaikan sebelum fase lain dimulai.
Indexability dan Crawlability
Saya memeriksa file robots.txt untuk memastikan tidak ada halaman penting yang diblokir dari crawling. Ini kedengarannya sepele, tapi saya pernah menemukan website yang secara tidak sengaja memblokir seluruh direktori kontennya dari Google karena konfigurasi robots.txt yang salah — biasanya akibat setting plugin yang tidak diperhatikan.
Di Google Search Console, saya juga memeriksa laporan Coverage untuk melihat halaman mana yang terindeks, mana yang di-exclude, dan mana yang error. Kalau ada halaman penting yang masuk kategori “Excluded — noindex tag”, itu perlu diselidiki lebih lanjut.
Broken Links
Broken links — baik internal maupun eksternal — memberikan sinyal negatif tentang kualitas maintenance website. Saya menggunakan Screaming Frog versi gratis (yang sudah cukup untuk website kecil hingga 500 URL) untuk melakukan crawl dan mengidentifikasi semua link yang mengarah ke halaman 404. Internal link yang broken langsung diperbaiki; external link yang broken dihapus atau diganti dengan sumber yang masih aktif.
Struktur URL
URL yang bersih dan deskriptif memudahkan Google memahami isi halaman sebelum merayapinya. Saya memeriksa apakah struktur URL website menggunakan format yang readable (/layanan/lukisan-potret/ jauh lebih baik dari /page?id=42), konsisten di seluruh website, dan tidak mengandung parameter yang tidak perlu.
Bagian 2: Audit Konten
Setelah audit teknis selesai, saya beralih ke audit konten. Di sini saya menilai setiap halaman utama dari perspektif SEO on-page — bukan untuk langsung mengubahnya, tapi untuk memahami seberapa jauh gap-nya dari kondisi yang optimal.
Title Tag dan Meta Description
Ini adalah dua elemen pertama yang dilihat Google dan pengguna di halaman hasil pencarian. Saya memeriksa apakah setiap halaman memiliki title tag yang unik dan deskriptif, apakah panjangnya tidak terpotong di SERP (idealnya di bawah 60 karakter), dan apakah meta description-nya memberikan alasan yang cukup kuat bagi seseorang untuk mengklik.
Yang sering saya temukan: website menggunakan judul halaman default dari tema WordPress — misalnya hanya nama brand tanpa konteks layanan atau lokasi. Ini membuang peluang besar karena title tag adalah salah satu sinyal on-page yang paling langsung dibaca Google.
Struktur Heading
Setiap halaman seharusnya memiliki tepat satu H1 yang mendeskripsikan topik utama halaman tersebut. H2 dan H3 digunakan untuk membagi konten menjadi bagian yang logis. Masalah yang paling sering muncul adalah tidak adanya H1 sama sekali, atau ada lebih dari satu H1 di halaman yang sama — biasanya karena tema WordPress yang menggunakan H1 untuk nama brand di header situs, sementara judul konten menggunakan H2.
Alt Text Gambar
Untuk website yang banyak menggunakan gambar — portofolio, galeri, toko produk — alt text adalah peluang SEO yang sangat sering diabaikan. Alt text yang baik mendeskripsikan isi gambar secara spesifik dan kontekstual, bukan sekadar mengulang keyword target atau dibiarkan kosong.
Di proyek untuk website seniman yang saya kerjakan, ini menjadi pekerjaan paling menyita waktu di fase audit — puluhan foto karya seni tanpa satu pun alt text. Tapi ini juga peluang terbesar: Google Images adalah sumber traffic yang serius untuk website berbasis visual, dan alt text adalah kunci utamanya.
Internal Linking
Saya memetakan bagaimana halaman-halaman di website saling terhubung. Website yang sehat memiliki struktur internal linking yang jelas: halaman utama mengarah ke halaman layanan, halaman layanan mengarah ke halaman kontak, dan artikel blog mengarah ke halaman yang relevan. Website yang tidak punya internal linking yang terstruktur membuat Google kesulitan memahami halaman mana yang paling penting.
Bagian 3: Riset Keyword
Setelah audit selesai dan saya punya gambaran lengkap tentang kondisi website, baru saya masuk ke riset keyword. Urutan ini penting: saya perlu tahu dulu apa yang sudah ada sebelum memutuskan apa yang perlu ditambahkan.
Mulai dari Audiens, Bukan dari Keyword
Kesalahan riset keyword yang paling umum adalah langsung membuka tools dan mengetik kata-kata yang terasa relevan. Hasilnya biasanya adalah daftar keyword yang secara teknis berhubungan dengan bisnis, tapi tidak mencerminkan cara audiens sesungguhnya mencari.
Saya selalu mulai dengan satu pertanyaan: siapa yang akan mencari website ini, dan apa yang sedang mereka coba selesaikan ketika mereka mengetik di Google? Jawaban pertanyaan ini menentukan kelompok keyword yang relevan jauh lebih akurat daripada brainstorming kata-kata sendirian.
Untuk website bisnis lokal, ada dimensi tambahan yang perlu dipertimbangkan: apakah target audiens bersifat lokal (hanya orang di kota atau area tertentu) atau nasional/internasional? Ini menentukan apakah keyword berbasis lokasi perlu menjadi prioritas atau tidak.
Tiga Kelompok Intent Keyword
Saya mengelompokkan keyword berdasarkan intent — niat di balik pencarian — bukan hanya berdasarkan topik. Ini karena halaman yang berbeda di website seharusnya menjawab intent yang berbeda, dan mencampur semua keyword dalam satu halaman biasanya tidak efektif.
Kelompok pertama adalah keyword transaksional: orang yang menggunakan keyword ini sedang dalam mode membeli atau memesan. Contohnya “jasa lukis potret”, “pesan karya seni custom”, “beli lukisan original”. Halaman yang paling tepat menjawab intent ini adalah halaman layanan atau halaman produk, bukan artikel blog.
Kelompok kedua adalah keyword berbasis lokasi: kombinasi layanan dan geografi yang digunakan orang yang mencari penyedia layanan di area tertentu. Contohnya “pelukis di Jakarta”, “seniman lokal Surabaya”, atau untuk konteks internasional seperti proyek yang saya kerjakan, “commission painting artist Memphis Tennessee”. Keyword jenis ini sangat relevan untuk halaman homepage dan halaman layanan.
Kelompok ketiga adalah keyword informatif: pertanyaan yang diajukan orang yang sedang dalam tahap mencari tahu, belum tentu siap membeli. Contohnya “berapa harga lukisan custom”, “berapa lama proses melukis potret”, “cara memesan lukisan”. Keyword ini paling cocok dijawab melalui artikel blog atau halaman FAQ, bukan halaman layanan.
Tools yang Saya Gunakan
Untuk proyek dengan anggaran terbatas, kombinasi Google Search Console, Google Keyword Planner, dan fitur autocomplete Google sendiri sudah cukup untuk menghasilkan daftar keyword yang solid. Google Search Console menunjukkan keyword apa yang sudah menghasilkan impression untuk website tersebut — ini adalah titik awal yang sangat berharga karena datanya nyata, bukan estimasi.
Untuk analisis yang lebih dalam, saya menggunakan Ubersuggest versi gratis atau Ahrefs Free Keyword Generator. Yang saya cari bukan keyword dengan volume pencarian tertinggi, tapi keyword dengan keseimbangan yang tepat antara volume, relevansi, dan tingkat kesulitan ranking — terutama untuk website baru atau website yang belum punya otoritas domain yang kuat.
Keyword Mapping: Satu Halaman, Satu Fokus
Setelah daftar keyword terkumpul, saya memetakan setiap keyword ke halaman yang paling relevan di website. Prinsipnya sederhana: satu halaman sebaiknya fokus pada satu topik utama dengan satu keyword primer, didukung beberapa keyword sekunder yang masih dalam satu konteks.
Kalau ada dua halaman yang bersaing untuk keyword yang sama — misalnya halaman “Tentang Saya” dan halaman “Layanan” keduanya menargetkan kata kunci yang sama — ini disebut keyword cannibalization dan perlu diselesaikan sebelum optimasi dimulai. Google akan bingung halaman mana yang harus dirank, dan hasilnya biasanya tidak ada yang ranking dengan baik.
Bagian 4: Analisis Kompetitor
Analisis kompetitor bukan tentang menjiplak strategi orang lain — ini tentang memahami standar yang harus dilampaui untuk bisa ranking di atas mereka. Saya melihat siapa yang saat ini menduduki halaman pertama Google untuk keyword target utama, lalu menganalisis kenapa mereka bisa di sana.
Yang saya perhatikan dari halaman kompetitor yang ranking: seberapa dalam kontennya membahas topik, bagaimana struktur halamannya, apakah ada data atau pengalaman spesifik yang membuat konten mereka unik, dan seberapa banyak backlink yang mereka miliki dari sumber yang relevan. Ini memberi saya gambaran realistis tentang berapa banyak usaha yang dibutuhkan untuk bersaing di keyword tersebut.
Untuk bisnis lokal dengan kompetisi rendah hingga menengah, seringkali kompetitor yang ranking bukan karena kontennya luar biasa — tapi karena tidak ada yang lain yang mengoptimasi halaman mereka dengan serius. Di situlah peluangnya.
Output Bulan Pertama: Apa yang Harus Sudah Ada
Di akhir bulan pertama, saya seharusnya sudah memiliki empat dokumen kerja yang menjadi fondasi seluruh pekerjaan SEO berikutnya.
Pertama, laporan audit teknis: daftar semua masalah teknis yang ditemukan, diurutkan berdasarkan prioritas perbaikan. Masalah yang menghambat indexing ada di urutan teratas, diikuti masalah performa, lalu masalah kosmetik yang bisa ditangani belakangan.
Kedua, laporan audit konten: peta kondisi on-page seluruh halaman utama — title tag, meta description, heading, alt text, internal linking — lengkap dengan catatan apa yang perlu diperbaiki di masing-masing halaman.
Ketiga, daftar keyword yang sudah dipetakan: keyword primer dan sekunder untuk setiap halaman utama, dikelompokkan berdasarkan intent, dilengkapi data volume dan tingkat kesulitan sebagai referensi prioritas.
Keempat, snapshot kompetitor: gambaran siapa yang saat ini ranking untuk keyword target utama dan apa yang membuat mereka berada di posisi tersebut.
Dengan keempat dokumen ini, bulan kedua bisa dimulai dengan arah yang jelas — bukan berdasarkan tebakan, tapi berdasarkan data. Kalau Anda ingin melihat bagaimana proses ini diterapkan dalam konteks proyek nyata, saya sudah mendokumentasikan seluruh prosesnya dari bulan pertama hingga bulan keenam di studi kasus SEO website seniman ini.
