Dulu, saya cuma ngisi alt text biar form di WordPress gak merah. Jujur aja, itu cuma formalitas. Saya pikir, ya sudahlah, yang penting ada. Toh, gambar saya tampil sempurna di mata pembaca. Sampai akhirnya, saya sadar itu bukan cuma buat robot mesin pencari. Ada lapisan lain yang jauh lebih penting, yang sering terlewatkan banyak orang, termasuk saya sendiri dulu.

Foto oleh Abdelrahman Ahmed via Pexels
Saya ingat, sekitar tahun 2021, saya lagi ngurusin blog pribadi yang isinya tutorial masak. Banyak banget gambar resep, step-by-step. Alt text saya? Paling cuma ‘gambar-masakan-enak’ atau ‘cara-goreng-ayam’. Asli, se-generik itu. Waktu itu, saya cuma peduli soal kecepatan loading dan keyword di konten teks. Alt text cuma jadi checkbox yang harus dicentang.
Yang Saya Pikirkan Dulu Tentang Alt Text — dan Kenapa Itu Salah Total
Asumsi awal saya tentang alt text itu sederhana: itu cuma buat SEO. Titik. Jadi, saya selalu berusaha nyelipin keyword di sana, kadang maksa banget. Misalnya, ada gambar piring kosong sebelum masakan jadi, alt text-nya saya kasih ‘resep-ayam-goreng-crispy-enak-mudah’. Padahal, ya, itu cuma piring kosong. Gak ada ayamnya sama sekali. Absurd, kan?
Parahnya, saya gak pernah mikirin skenario gambar itu gak muncul. Pernah suatu ketika, server hosting saya lagi ngadat. Semua gambar di blog saya blank. Yang muncul cuma kotak abu-abu dengan teks kecil di dalamnya. Dan tahu gak apa yang tertulis di sana? ‘resep-ayam-goreng-crispy-enak-mudah’ di gambar piring kosong. Pembaca pasti bingung total. Jangankan paham, nyambung aja enggak.
Itu momen pencerahan buat saya. Alt text bukan cuma soal keyword. Jauh dari itu. Ini soal pengalaman. Pengalaman pengguna yang mungkin jaringannya jelek, atau yang kebetulan menggunakan screen reader. Saya merasa bodoh banget waktu itu. Semua optimasi yang saya lakukan di bagian lain jadi terasa sia-sia kalau hal fundamental seperti ini saya abaikan.
Bukan Sekadar Deskripsi: Fungsi Alt Text yang Sebenarnya Buat Mesin Pencari
Setelah insiden server ngadat itu, saya mulai serius belajar. Ternyata, alt text itu punya peran ganda yang krusial. Buat mesin pencari, alt text membantu mereka memahami konteks visual gambar. Robot Google itu kan gak punya mata, jadi mereka mengandalkan teks di sekitarnya dan, ya, alt text ini.
Bayangkan kamu punya foto produk, misalnya sepatu lari. Kalau alt text-nya cuma ‘sepatu’, Google gak akan tahu banyak. Tapi kalau kamu tulis ‘sepatu lari Nike Air Zoom Pegasus 38 warna hitam untuk pria’, itu jauh lebih informatif. Google bisa mengindeks gambar itu untuk pencarian yang lebih spesifik. Ini bukan cuma soal muncul di Google Images, lho. Ini juga mempengaruhi relevansi keseluruhan halaman kamu di hasil pencarian web.
Yang menarik, Google sendiri sering bilang kalau mereka bisa saja mengabaikan alt text yang isinya cuma keyword stuffing. Mereka sudah makin pintar. Jadi, kalau kamu masih mikir ‘makin banyak keyword, makin bagus’, itu sudah kuno. Yang dicari sekarang adalah relevansi dan naturalitas. Alt text yang bagus itu yang secara akurat mendeskripsikan gambar, bukan daftar belanja keyword. Ini sebenarnya bagian dari baca juga: Apa Itu On Page Seo? Penjelasan Lengkap + Contoh yang sering terlewat.
Jadi, apa bedanya alt text dengan caption?
Ini sering bikin bingung, ya kan? Gampangnya gini: alt text itu deskripsi gambar untuk mesin pencari dan pengguna yang tidak bisa melihat gambar. Dia ‘pengganti’ gambar kalau gambar itu gak ada. Sementara caption, itu teks yang muncul di bawah gambar dan bisa dilihat semua orang. Caption itu pelengkap visual, memberikan konteks tambahan atau penjelasan yang lebih mendalam tentang gambar.
Misalnya, alt text untuk foto kucing: ‘Kucing oranye sedang tidur di sofa’. Caption-nya bisa: ‘Si Miko, kucing kesayangan kami, selalu tidur di sofa favoritnya setelah makan siang’. Keduanya penting, tapi fungsinya beda.
Masalah Umum Saat Menulis Alt Text — dan Cara Saya Mengatasinya
Dari pengalaman saya mengaudit ratusan gambar di blog saya sendiri, ada beberapa pola kesalahan yang sering saya temukan. Mungkin kamu juga pernah melakukannya.
- Terlalu Generik atau Kosong Sama Sekali: Ini dosa terbesar. Alt text cuma ‘gambar’, ‘foto’, atau bahkan kosong melompong. Ini sama sekali tidak membantu siapa pun. Solusinya? Anggap kamu sedang menjelaskan gambar itu ke temanmu lewat telepon. Apa yang akan kamu bilang?
- Keyword Stuffing: Seperti kasus saya dulu. Memasukkan terlalu banyak keyword yang tidak relevan. Ini malah bisa dianggap spam oleh Google. Fokus pada satu atau dua keyword utama yang relevan dan sisanya adalah deskripsi natural.
- Mengulang Informasi dari Caption: Kadang, orang menulis alt text persis sama dengan caption. Ini pemborosan. Alt text dan caption harus saling melengkapi, bukan mengulang.
- Terlalu Panjang: Meskipun tidak ada batasan karakter yang kaku, alt text yang terlalu panjang (lebih dari 125 karakter) bisa menyulitkan screen reader. Usahakan ringkas, padat, dan informatif.
Cara saya mengatasinya? Saya mulai dengan melihat setiap gambar sebagai bagian penting dari narasi. Bukan sekadar hiasan. Untuk gambar produk, saya sertakan nama produk, merek, model, dan warna. Untuk gambar infografis, saya berikan ringkasan singkat dari data yang paling penting. Ini butuh waktu, memang. Tapi hasilnya sepadan.
Alt Text dan Pengalaman Pengguna: Kenapa Ini Lebih Penting dari yang Kita Kira
Selain SEO, ada satu aspek lain yang membuat alt text itu krusial: aksesibilitas. Ini adalah bagian dari filosofi Web Accessibility Initiative (WAI) dari W3C, yang sering diabaikan. Bagi orang dengan gangguan penglihatan, alt text adalah jendela mereka ke dunia visual di website kamu. Screen reader akan membacakan alt text ini sehingga mereka bisa memahami apa yang ada di gambar.
Saya pernah membaca sebuah studi kasus (lupa persisnya di mana, tapi intinya tentang e-commerce fashion) yang menunjukkan bahwa toko online dengan alt text yang deskriptif dan akurat punya tingkat konversi yang lebih tinggi dari pengguna screen reader. Mereka bisa ‘melihat’ detail produk yang tidak bisa mereka lihat secara fisik. Ini bukan angka yang besar, tapi signifikan. Itu artinya, dengan alt text yang bagus, kamu tidak hanya membantu mereka, tapi juga membuka pasar baru.
Pikirkan juga saat koneksi internet lambat. Saat gambar tidak bisa dimuat sempurna, alt text akan muncul. Jika alt text kamu informatif, pengguna setidaknya punya gambaran tentang apa yang seharusnya ada di sana. Ini mengurangi frustrasi dan menjaga mereka tetap berada di halaman kamu, bukannya langsung pergi.
Kapan Alt Text Boleh Kosong? Ada Kok Kondisinya.
Bukan berarti semua gambar harus punya alt text yang panjang dan deskriptif, ya. Ada kondisi di mana alt text bisa dan bahkan sebaiknya kosong (alt=""). Ini biasanya untuk gambar-gambar dekoratif yang tidak menambah informasi penting pada konten.
Contohnya, gambar garis pemisah, ikon kecil yang cuma sebagai hiasan visual, atau background gambar yang tidak relevan dengan inti konten. Kalau gambar itu murni dekoratif dan tidak menyampaikan informasi apa pun, mengosongkan alt text akan mencegah screen reader membacakan deskripsi yang tidak perlu dan malah mengganggu pengalaman pengguna.
Tapi, hati-hati. Jangan sampai salah mengkategorikan. Gambar logo perusahaan di header, misalnya, itu bukan dekoratif. Itu penting. Alt text-nya harus ‘Logo [Nama Perusahaan]’. Selalu tanyakan pada diri sendiri: ‘Apakah gambar ini menyampaikan informasi yang penting bagi pemahaman konten?’ Kalau iya, isi alt text-nya. Kalau tidak, baru pertimbangkan untuk mengosongkannya.
Mungkin kamu sekarang lagi buka website sendiri, ngelihatin satu per satu gambar. Coba deh, mulai dari situ. Bukan cuma buat Google, tapi buat semua yang berkunjung ke sana.
