Article 8 min read

Cara Mendapatkan Leads Dari Google Dengan Seo Dan Paid Ads

mendapatkan leads Google - Hands typing on a laptop with Google on screen, in a remote work setup in Milan, Italy.

Dulu saya pikir, kalau sudah pakai Google Ads, SEO itu jadi nomor dua. Atau sebaliknya. Salah satu saja. Ternyata, itu asumsi paling salah yang pernah saya buat waktu pertama kali coba mendapatkan leads Google. Asumsi itu bikin saya rugi waktu, tenaga, dan uang di awal-awal.

Saya ingat betul, sekitar tahun 2023, saya lagi push produk digital baru. Targetnya jelas: leads yang bisa langsung dikonversi. Dengan modal yang lumayan, saya langsung gas Google Ads. Hasilnya? Trafik tinggi, impresi jutaan, tapi leads? Nol besar. Atau kalau ada, kualitasnya jelek sekali. Sementara itu, saya juga sedang bangun SEO untuk konten-konten edukasi. Lambat, tapi leads yang masuk dari organik itu kualitasnya jauh lebih baik. Ini bikin saya mikir keras: kenapa bisa begini? Padahal sama-sama dari Google.

Masalahnya, saya memperlakukan mereka sebagai dua entitas yang terpisah total. Padahal, mereka itu kayak pasangan yang harusnya menari bersama, bukan solo performance. Kalau cuma satu yang jago, yang lain jadi pincang.

Waktu Saya Anggap SEO dan Paid Ads Itu Jalan Sendiri-sendiri

Kesalahan terbesar saya waktu mencoba mendapatkan leads Google adalah menganggap SEO dan Paid Ads itu dua jalur yang tidak saling bersentuhan. Ibaratnya, SEO itu jalan kaki pelan-pelan sambil menikmati pemandangan, Paid Ads itu ngebut pakai mobil sport. Sama-sama sampai tujuan, tapi beda cara dan kecepatan.

Waktu pertama kali saya setup campaign Google Ads untuk produk saya, saya fokus banget ke keyword yang kompetitif dan volume pencarian tinggi. Saya pikir, makin banyak orang lihat iklan, makin banyak yang klik, makin banyak leads. Logika yang lurus, kan? Tapi kenyataannya, orang yang klik iklan dengan keyword generik cenderung masih ‘dingin’. Mereka baru cari informasi, belum siap beli. Mereka cuma ingin tahu, bukan ingin konversi. Ini yang bikin biaya iklan saya membengkak, tapi return-nya minim.

Di sisi lain, konten-konten SEO saya yang membahas solusi masalah secara mendalam, dengan keyword long-tail, pelan-pelan mulai menarik perhatian. Orang yang sampai ke konten itu biasanya sudah punya masalah spesifik dan sedang mencari jawaban. Mereka datang dengan intent yang lebih matang. Leads yang masuk memang tidak banyak, tapi kualitasnya jauh di atas rata-rata. Mereka lebih mudah diedukasi, lebih cepat paham nilai produk, dan akhirnya lebih gampang dikonversi. Ini yang disebut inbound marketing, saya baru sadar setelah beberapa bulan.

Dari situ saya mulai paham. Paid Ads bisa kasih kecepatan, jangkauan instan. SEO bisa kasih kualitas dan kepercayaan jangka panjang. Mereka bukan musuh, tapi partner yang saling melengkapi. Paid Ads bisa ‘menjemput’ orang yang butuh solusi cepat, sementara SEO ‘menarik’ orang yang sedang mencari pemahaman mendalam.

Jebakan Keyword “Sama Rata” di Kedua Platform

Ini masalah klasik yang bikin banyak orang boncos di Paid Ads, atau frustrasi di SEO. Dulu, waktu saya coba mendapatkan leads Google, saya punya daftar keyword unggulan dari riset SEO saya. Saya pikir, ‘wah, ini keyword bagus, trafiknya lumayan, saya pakai juga di Google Ads biar cepat!’. Ternyata, itu asumsi yang salah kaprah.

Waktu saya coba pakai keyword ‘jasa pembuatan website’ di Google Ads, CPC-nya gila-gilaan. Kliknya banyak, tapi yang masuk cuma orang-orang yang baru sekadar ‘cek harga’ atau ‘bandingin’. Mereka belum siap keputusan. Beda dengan SEO, di mana artikel saya tentang ‘cara memilih jasa pembuatan website untuk UMKM’ justru menarik orang yang lebih serius, sudah melewati tahap ‘cek harga’ dan sekarang butuh panduan lebih lanjut. Mereka siap untuk mendapatkan leads Google yang berkualitas.

Kenapa bisa begitu? Karena intent pencarian di Paid Ads dan SEO itu seringkali berbeda, meskipun keyword-nya mirip. Di Paid Ads, orang yang klik iklan itu seringkali mencari solusi instan, atau memang sedang di tahap ‘beli sekarang’. Mereka butuh keyword yang sangat komersial dan spesifik, seperti ‘jasa pembuatan website murah Jakarta’ atau ‘beli software akuntansi terbaik’.

Sedangkan di SEO, kamu bisa bermain lebih luas. Kamu bisa target keyword informasional (‘apa itu SEO?’, ‘fungsi website untuk bisnis’), navigasional (‘nama brand saya’, ‘login dashboard’), bahkan komersial yang lebih panjang (‘review software akuntansi X vs Y’). SEO itu membangun fondasi. Paid Ads itu mengeksekusi di momen krusial. Jadi, jangan samakan semua keyword. Itu sama saja kamu pakai jas formal buat main bola. Niatnya bagus, tapi salah tempat.

Apakah berarti saya tidak boleh pakai keyword yang sama sekali?

Bukan tidak boleh, tapi harus tahu porsinya. Untuk Paid Ads, fokus ke keyword yang punya commercial intent kuat. Yang langsung mengarah ke transaksi. Kalau untuk SEO, kamu bisa lebih luwes, dari informasional sampai transaksional. Bahkan, keyword yang terlalu mahal di Paid Ads bisa kamu ‘serang’ dengan SEO. Biarkan organik yang mendominasi di situ, dan gunakan Paid Ads untuk keyword yang lebih spesifik dan punya konversi tinggi.

Kenapa Landing Page SEO dan Paid Ads Tidak Bisa Disamakan

Ini lagi-lagi soal intent. Dulu, saya pernah pakai satu landing page yang sama untuk iklan Google Ads dan untuk artikel SEO saya. Hasilnya? Gagal total di keduanya. Waktu itu saya mikir, ‘kan sama-sama mau jualan, kenapa beda?’. Ternyata, saya salah besar.

Untuk Paid Ads, landing page harus straight to the point. Orang yang klik iklan itu sudah tahu dia mau apa, atau setidaknya sudah punya gambaran. Mereka butuh informasi ringkas, penawaran jelas, dan CTA yang menonjol. Mereka tidak punya waktu untuk membaca 2.000 kata artikel yang menjelaskan sejarah perusahaanmu. Mereka mau tahu: ‘apa yang kamu tawarkan, berapa harganya, dan bagaimana cara mendapatkannya?’. Saya pernah kirim trafik iklan ke halaman blog yang isinya edukasi panjang, alhasil bounce rate tinggi banget dan tidak ada yang konversi. Uang iklan saya terbuang percuma.

Beda dengan landing page untuk SEO. Orang yang datang dari pencarian organik, apalagi yang pakai keyword informasional, justru butuh konten yang komprehensif. Mereka ingin diedukasi, ingin tahu detailnya, ingin membandingkan. Halaman SEO itu harus jadi sumber informasi yang kredibel. Mereka tidak akan langsung konversi di klik pertama. Mereka mungkin akan membaca artikelmu, lalu balik lagi besok, atau mencari artikel lain yang relevan. Di sinilah peran Google Search sebagai jembatan pengetahuan.

Jadi, untuk mendapatkan leads Google, kamu butuh dua jenis landing page yang berbeda. Satu untuk Paid Ads, yang fokusnya konversi instan. Satu lagi untuk SEO, yang fokusnya edukasi, membangun kepercayaan, dan bisa jadi pintu masuk ke sales funnel yang lebih panjang. Keduanya harus punya tujuan yang jelas dan spesifik.

Data Yang Sering Kita Abaikan: Membaca Sinyal dari Google Analytics

Ini bagian yang paling bikin saya pusing di awal. Saya punya Google Analytics, saya lihat data trafik organik, data trafik paid. Tapi saya tidak pernah melihatnya secara bersamaan. Saya selalu pisahkan. Padahal, di sinilah letak ‘harta karun’ untuk mendapatkan leads Google yang efektif.

Waktu itu, saya melihat Paid Ads saya menghasilkan banyak ‘sesi baru’. Sementara SEO saya menghasilkan ‘sesi berulang’ dan ‘durasi sesi’ yang lebih lama. Saya cuma berpikir, ‘oh, Paid Ads itu untuk akuisisi user baru, SEO itu untuk retensi’. Tidak salah, tapi itu cuma sebagian kecil dari gambaran besarnya.

Saya baru sadar setelah beberapa kali review ‘Attribution Models’ di Google Analytics. Ternyata, banyak user yang awalnya datang dari Paid Ads (misalnya, mereka klik iklanmu), tapi tidak langsung konversi. Mereka keluar, lalu beberapa hari kemudian, mereka mencari lagi di Google dengan keyword yang lebih spesifik, menemukan artikel SEO saya, membaca, dan baru konversi. Atau sebaliknya, mereka datang dari SEO, baca-baca, lalu melihat iklan saya di sosial media atau Google, dan baru konversi di situ.

Ini artinya, Paid Ads dan SEO itu saling membantu. Paid Ads bisa jadi ‘pembuka jalan’ untuk memperkenalkan brand-mu. SEO bisa jadi ‘pembangun kepercayaan’ yang menguatkan keputusan user. Kalau kamu cuma lihat ‘last click’ (konversi terakhir), kamu akan salah menilai kontribusi masing-masing.

Mulai sekarang, coba lihat data secara holistik. Perhatikan user journey-nya. Keyword apa di Paid Ads yang juga punya performa bagus di SEO? Konten apa di SEO yang sering dikunjungi oleh user yang juga pernah klik iklanmu? Dari situ, kamu bisa optimasi alokasi budget Paid Ads, atau fokus di topik SEO yang benar-benar punya potensi konversi.

Bagaimana cara tahu mana yang benar-benar bawa leads?

Ini bagian yang tricky, butuh setup tracking yang benar. Jangan cuma lihat ‘last click’ di laporan standar. Coba lihat laporan ‘Model Atribusi’ atau ‘Jalur Konversi Teratas’ di Google Analytics. Seringkali, user datang dari SEO dulu, baru klik iklanmu, atau sebaliknya. Mereka berinteraksi dengan beberapa ‘sentuhan’ sebelum akhirnya jadi leads. Memahami jalur ini akan membantumu mengalokasikan sumber daya lebih cerdas.

Pada akhirnya, mendapatkan leads Google bukan cuma soal pilih SEO atau Paid Ads. Bukan juga soal mana yang lebih cepat atau lebih murah. Tapi bagaimana kamu membuat keduanya bekerja sama, seperti sebuah orkestra. Setiap instrumen punya peran, dan kalau dimainkan dengan harmoni, hasilnya akan luar biasa. Saya menyalakan laptop, dan mulai dari langkah pertama yang tadi saya tulis: memilah ulang keyword untuk tiap platform.

baca juga: Seo Vs Google Ads: Mana Yang Lebih Menguntungkan Untuk Bisnis?

← Back to Blog Next Article →